Kampung Wisata Arborek

Waigeo, Raja Ampat

No Responses/5



Arborek. Nama ini terdengar asing bagi orang yang belum pernah mendatangi pulau kecil yang terdapat di Distrik Meos Mansar, Raja Ampat, ini. Saking kecilnya, tak sampai dua jam wisatawan sudah bisa mengitari pulau ini dengan bersepeda atau berjalan kaki. Luas Arborek hanya tujuh hektar, atau sekitar sepersepuluh luas Monas.

Meski kecil, Arborek tersohor sebagai salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. Airnya yang jernih menawarkan ketajaman visual yang amat baik bagi para penyelam. Aneka terumbu karang, ikan beraneka rupa dan warna, hingga hamparan pasir putih sebagai alas di dasar lautnya merupakan atraksi utama yang disuguhkan untuk para penyelam. Lalu apa yang berbeda dari tempat menyelam yang lain? Mungkin pertanyaan ini muncul di benak para pembaca.

Raja Ampat merupakan rumah bagi 540 jenis terumbu karang, 1.511 spesies ikan, dan lebih dari 700 jenis mollusca. Semuanya adalah penghuni semesta bawah laut Arborek. Sehingga, banyak yang mengatakan Arborek seolah-olah seperti ‘akuarium mini Raja Ampat’. Wisatawan yang tak punya banyak waktu untuk mengelilingi seluruh diving spot di Raja Ampat dapat langsung menyelami dalamnya laut Arborek untuk mencecap Raja Ampat yang sesungguhnya.

Hanya berdiri di dermaganya saja, wisatawan sudah disajikan pertunjukan aneka ikan yang seolah-olah sedang bermain opera di dasar laut. Ada yang seperti sedang bermain petak umpet, ada yang hilir-mudik memamerkan warnanya yang indah dan berkilauan, ada yang gemar bergerombol seperti gambaran perilaku masyarakat yang gemar berkerumun. Semuanya memainkan perannya dengan baik yang membuat wisatawan terhibur melihat lakon yang sedang mereka mainkan.

Tak ada kapal besar yang boleh menyinggahi dan melintasi, apalagi bersandar, di perairannya membawa keuntungan yang sangat besar bagi terjaganya kelestarian semesta bawah laut Arborek. Kapal pesiar pun tak boleh sembarang membuang jangkar. Pemerintah dan masyarakatnya telah menyepakati wilayah mana saja yang diperbolehkan untuk membenamkan sauh. Bukan apa-apa, besi seberat 500 kilogram-1,2 ton dapat membunuh terumbu karang yang jadi penyangga kehidupan semesta bawah laut Arborek.

Kata Arborek sendiri, menurut bahasa setempat, berarti duri. Jika ditelusuri dari cerita para leluhur masyarakat Arborek, wilayah ini dulu penuh dengan semak berduri. Leluhur mereka datang dari Biak, sebuah daerah pesisir utara Papua-sebelah barat laut Papua Nugini, beratus-ratus tahun lalu. Saat pertama kali menjejak pulau kecil ini, sejauh mata memandang hanya hamparan semak duri.

Mereka lantas bahu membahu menyiangi semak-semak berduri tersebut, berbekal kesadaran berkelompok yang kuat. Mereka membersihkannya hingga cukup layak untuk ditinggali. Sisanya menjadi sejarah yang terukir dalam hingga ratusan tahun setelahnya. Keturunan mereka menjadi orang-orang yang mendiami, menghidupi, dan menjaga Arborek yang telah mereka ‘temukan’. Dari sinilah nama Arborek alias duri berasal.

Leluhur Arborek berperilaku bijaksana terhadap alam. Mereka tahu alam yang menyediakan segala untuk menopang kehidupan mereka dan anak cucunya kelak, harus terus dijaga. Segera setelah berhasil membersihkan tempat itu dari duri belukar, mereka membuat segala aturan untuk hidup bersahabat berdampingan dengan semestanya, mengenyahkan segala ketamakan dan kerakusan untuk mengeksploitasi hasil alamnya berlebihan.

Hingga kini, masyarakat Arborek yang didiami oleh suku Betew sangat hati-hati menjaga amanat leluhur mereka. Sikap kehati-hatian itu tercermin dari perilaku mereka yang tegas kepada pengunjung yang ingin menikmati semesta Arborek. Penyelam tak dibolehkan menyelam sendiri tanpa didampingi masyarakat setempat atau operator lokal yang telah dipercaya oleh masyarakat Arborek. Tujuannya supaya penyelam tak berperilaku sembrono.

Arborek merupakan rumah bagi manta. Di timur laut kampung ini terdapat rumah singgah pari manta yang hendak membersihkan diri. Cleaning station manta ini dikenal dengan nama Manta Sandy. Para penyelam tentu tak akan melewatkan kesempatan menyelam bersama para manta. Sayangnya, banyak penyelam yang tak tahu diri. Mereka memegang bahkan mengejar para manta, menunjukkan kepongahannya hanya demi mendapatkan foto sensasional.

Akibat perilaku sembrono ini wisatawan ini, manta enggan kembali ke Manta Sandy. Sehingga, pada Juni 2017 dibuatlah aturan bagi para wisatawan yang ingin menyelam di sekitar Manta Sandy. Setiap wisatawan yang ingin menyelam di area tersebut wajib melapor ke Pos Manta Sandy. Di sana mereka dibekali informasi berinteraksi dengan manta, diantaranya jika berpapasan dengan kawanan manta, penyelam wajib menjaga jarak, berdiam diri dan hanya melihat saja.

Masyarakat juga mengatur batas maksimal penyelam yang boleh mengeksplorasi Manta Sandy tiap jamnya, yaitu hanya 20 orang. Jika penyelam atau operator wisata melanggar kesepakatan ini, mereka dilarang kembali ke Arborek. Jangan main-main atau berniat menyuap para kader manta yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk mengawasi aktivitas wisata di Arborek. Mereka lebih menyayangi semesta yang menjadi ruang hidup mereka ketimbang para penyelam dan operator wisata yang kurang ajar.

Namun, bukan berarti masyarakat tak ramah kepada wisatawan. Kampung ini pernah dinobatkan sebagai kampung wisata terbaik di Raja Ampat karena segala kualitas terbaik yang ditawarkan warga Arborek kepada para pengunjung. Wisatawan memerlukan waktu tempuh selama 1,5-2 jam dari Waisai dengan menumpang kapal cepat untuk menjamah keramahan Arborek.

360° Media

Gallery

Explore

3D Tour

Downloads

0 0 vote
Article Rating
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments